Senin, 30 Januari 2012

MAHABBAH, MA’RIFAT, DAN FANA BAQA


MAHABBAH, MA’RIFAT, DAN FANA BAQA

BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
            Dewasa ini akhlak dalam tasawuf sangat dibutuhkan dalam setiap manusia khususnya bagi seorang muslim. Oleh karena itu khususnya bagi orang muslim haruslah tahu apa arti ajaran-ajaran sufi atau pemahaman dalam aliran sufi itu, agar dalam mengamalkan tepat pada sasaran yang sesuai dengan kaedah agama yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Saw, pada zaman sekarang banyak dari golongan-golongan umat muslim yang menyimpang dari ajaran agama, maka dari itu untuk menjadi pedoman atau contoh dalam makalah ini  kami akan membahas sedikit  apa yang terdapat dalam ajaran-ajaran sufi yang dapat kita teladani.

B.            Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.      Apa arti dari Mahabbah?
2.      Apa arti dari Ma’rifat?
3.      Apa arti dari Fana Baqa?












BAB 11
PEMBAHASAN
A.            MAHABBAH
            Cinta atau yang dikenal dalam bahasa Arab Mahabbah berasal dari kata ahabbah-yuhibbu-mahabbatan, yang secara bahasa berarti mencintai secara mendalam, kecintaan, atau cinta yang mendalam.[1] Dalam  Al-Mu’jam al-Falsafi, Jamil Shaliba mengatakan, Mahabbah (cinta) adalah lawan dari kata al-baghd (benci).[2] Al- Mahabbah dapat pula berarti al-wadud, yakni yang sangat pengasih atau penyayang.[3] Selain itu, al-mahabbah dapat pula berarti kecenderungan kepada sesuatu yang sedang berjalan dengan tujuan untuk memperoleh kebutuhan yang bersifat material maupun spiritual, seperti cintanya seseorang yang kasmaran pada sesuatu yang dicintainya, orang tua pada anaknya, seseorang pada sahabatnya, suatu bangsa terhadap tanah airnya, atau seorang pekerja pada pekerjaannya. Mahabbah pada tingkat selanjutnya dapat pula berartisuatu usaha sunguh-sungguh dari seseorang untuk mencapai tingkat ruhaniah tertinggi dengan tercapainya gambaran yang mutlak,yaitu cinta kepada Tuhan.[4]
            Kata Mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjukkan suatu paham atau aliran dalam tasawwuf. Dalam hubungan ini, objek mahabbah lebih ditunjukkan kepada Tuhan.Dari sekian banyak arti mahabbah yang dikemukakan diatas , tampaknya ada juga yang cocok dengan arti mahabbah yang dikehendaki dalam tasawuf, yaitu mahabbah yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhani kepada Tuhan.[5]
            Mahabbah dalam pengertian tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan oleh Al-Qusyairi sebagai berikut:
Al-Mahabbah merupakan hal (keadaan) jiwa yang mulia yang bentuknya adalah disaksikan nya (kemutlakan) Allah Swt oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakan cinta kepada yang dikasiha-Nya.[6]
            Mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba yang mencintai-Nya itu selanjutnya dapat mengambil bentuk iradah dan rahmah Allah yang diberikan kepada hamba-Nya dalam bentuk pahala dan nikmat yang melimpah.[7] Mahabbah berbeda dengan al-raghbah. Mahabbah adalah cinta yang tidak dibarengi dengan harapan pada hal-hal yang bersifat duniawi, sedangkan al-raghbah adalah cinta yang disertai dengan keinginan yang kuat untuk mendapatkan sesuatu, meskipun harus mengorbankan segalanya.[8]
            Menurut Harun Nasution, pengertian mahabbah adalah:
  1. Patuh kepada Tuhan dan membenci sikap melawan kepada-Nya.
  2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang dikasihi.
  3. Mengosongkan hati dari segala-galanya kecuali dari yang dikasihi,yaitu Tuhan.[9]
Menurut Al-Sarraj, sebagaimana dikutip oleh Harun Nasution, ada tiga macam tingkatan mahabbah, yaitu mahabbah orang biasa, mahabbah orang shidiq, dan mahabbah orang yang arif. Mahabbah orang biasa mengambil bentuk selalu mengingat Allah dengan berzikir, memuji Allah, suka menyebut nama-nama Allah, dan memperoleh kesenangan dalam berdialog dengan Allah. Mahabbah orang shidiq adalah cinta dari seseorang yang kenal kepada Allah, kepada kebesaran-Nya, kepada kekuasaan-Nya, kepada ilmu-Nya, dan lain-lain. Juga cinta yang dapat menghilangkan tabir yang memisahkan diri seseorang dari Tuhan dan dengan demikian dapat melihat rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan..Ia mengadakan dialog dengan Tuhan dan memperoleh kesenangan dari dialog itu. Cinta tingkat kedua ini membuat seseorang sanggup menghilangkan kehendak  dan sifat-sifatnya sendiri, sedang hatinya penuh dengan perasaan cinta kepada Tuhan dan selalu rindu pada-Nya. Sedangkan mahabbah orang yang arif adalah cinta dari seseorang yang tahu betul kepada Tuhan. Yang dilihat dan dirasa bukan lagi cinta, tetapi diri yang dicintai. Akhirnya sifat-sifat yang dicintai masuk kedalam diri yang mencintai.[10]
            Dari ketiga tingkatan mahabbah yang dikemukakan oleh Harun Nasution tersebut tampak menunjukkan suatu proses mencintai, yaitu mulai dari mengenal sifat-sifat Tuhan dengan menyebut-Nya melalui dzikir, dilanjutkan dengan leburnya diri (fana) pada sifat-sifat  Tuhan itu, dan akhirnya menyatu kekal (baqa) dalam sifat Tuhan. Dari ketiga tingkatan ini tampaknya cinta yang terakhirlah yang ingin dituju oleh mahabbah ini.[11]
            Dengan urain tersebut kita dapat memperoleh pemahaman bahwa mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Tuhan sepenuh hati sehingga sifat-sifat yang dicintai (Tuhan) masuk kedalam diri yang mencintai. Tujuannya adalah untuk memperoleh kesenangan batiniah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tetapi hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Selain itu, uraian di atas juga menggambarkan bahwa mahabbah adalah merupakan hal yaitu keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan takut, dan sebagainya. Hal bertalian dengan maqam karena hal bukan diperoleh atas usaha manusia, melainkan karena anugrah dan rahmat dari Tuhan. Dan berlainan pula dengan maqam, hal bersifat semaentara, datang dan pergi, sebagaimana datang dan perginya seorang sufi dalam perjalanannya mendekati Tuhan.[12]




















B. MA’RIFAT
           
            Al-Ghazali adalah sosok sufi sekaligus filosof yang melansir konsep ma’rifat. Menurutnya, ma’rifat adalah:
            Tampak jelasnya rahasia-rahasia ketuhanan dan pengetahuan, yaitu soal    ketuhanan yang mencakup segala yang ada.[13]
            Lebih lanjut Al-Ghazali mengatakan, ma’rifat adalah:
            Memandang kepada wajah (rahasia) Allah.[14]
            Menurut Al-Ghazali, orang yang mempunyai ma’rifat tentang Tuhan (arif),tidak akan mengatakan ya Allah atau ya rabb karena memanggil Tuhan dengan kata-kata serupa ini menyatakan bahwa Tuhan ada di belakang tabir. Orang yang duduk berhadapan dengan temannya tidak akan memanggil temannya itu.[15]
            Menurut Al-Ghazali, ma’rifat ada terlebih dahulu daripada mahabbah karena mahabbah muncul dari ma’rifat. Namun mahabbah yang dimaksud Al-Ghazali berlainan dengan mahabbah yang diucapkan oleh Rabi’ah al-adawiyah, yaitu mahabbah dalam bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya, cinta yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia yang memberi manusia hidup, rizki, kesenangan, dan lain-lain.Al-Ghazali berpendapat bahwa ma’rifat dan mahabbah adalah level paling tinggiyang bisa dicapai seorang sufi. Dan, pengetahuanyang diperolehdari ma’rifat lebih tinggimutunya daripada pengetahuan yang diperoleh dengan akal.[16]
            Dari aspek bahasa, ma’rifat berasal dari kata ‘arafa-ya’rifu-‘irfan, yang artinya pengetahuan atau pengalaman.[17] Bisa juga berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripadailmu yang biasa dipelajari oleh orang-orang pada umumnya.[18] Ma’rifat adalah pengetahuan yang objeknya bukan pada hal-hal yang bersifat zahir, melainkan pada hal-hal yang bersifat batin.Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa akal manusia sanggup mengetahui hakikat ketuhanan dan segala yang maujud berasal dari yang satu.[19]
            Ma;rifat adalah salah satu tingkatan dalam tasawuf yang diartikan sebagai pengetahuan mengenai Tuhan melalui hati sanubari.pengetahuan ini sedemikian lengkap dan jelas sehingga jiwa seseorang merasa satu dengan yang diketahuinya, yaitu Tuhan.[20] Menurut Harun Nasution, ma’rifat menggambarkan hubungan rapat dalam dalam bentuk gnosis, pengetahuan, dan hati sanubari.[21] ma’rifat  berarti mengetahui Tuhan dari dekat sehingga hati sanubari dapat melihat Tuhan. Oleh karena itu kaum sufi mengatan:
1.      Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanyaakan tertutup, dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah.
2.      Ma’rifat adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3.      Yang dilihat orang arif, baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanya Allah.
4.      Seandainya ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya.  Dan semua cahaya akan menjadi gelap disamping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.[22]
            Dari beberapa definisi tersebut dapat diketahui bahwa ma’rifat adalah mengetahui rahasia Tuhan dengan menggunakan hati sanubari. Dengan demikian, tujuan yang ingin dicapai oleh ma’rifat adalah mengetahui rahasia yang terdapat dalam diri Tuhan.
            Alat yang dapat digunakan untuk menggapai ma’rifat telah ada dalam diri manusia, yaitu qalb (hati), tetapi artinya tidak sama dengan heart dalam bahasa Inggris karena qalb selain merupakan alat untuk merasa, juga alat untuk berpikir. Bedanya qalb dengan akal ialah bahwa akal tak bisa memperoleh pengetahuan yang sebenarnya tentang Tuhan, sedangkan qalb bisa mengetahui hakikat dari segala yang ada. Jika dilimpahi cahaya Tuhan, qalb bisa mengetahui rahasia-rahasia Tuhan. Qalb yang telah dibersihkan dari segala dosa dan maksiat melalui serangkaian zikir dan wirid secara teratur akan dapat mengetahui rahasia-rahasia Tuhan karena qalb yang bersangkutan telah disinari cahaya Tuhan.[23]
            Prose sampainya qalb pada cahaya Tuhan ini erat kaitannya dengan konsep takhalli, tahalli, tajalli. Takhalli yaitu mengosongkan diri  dari akhlak yang tercela dan perbuatan maksiat melalui taubat. Hal ini dilanjutkan dengan tahalli yaitu menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan amal ibadah. Sedangkan tajalli adalah terbukanya hijab sehingga tampak jelas cahaya Tuhan. Hal ini  diilustrasikan dalam firman Allah:
Ketika Tuhannya tampak dibukit itu, maka bukit itu hancur lebur, Musa pun jatuh tak sadarkan diri.[24]
Pengertian tajalli juga dijelaskan dalam kitab Insan al-Kamil sebagai berikut:
Dalam laku tajalli, seorang hamba melihat Allah. Ketika itu, perbuatan, gerak, dan diam seorang hamba adalah bagi Allah semata.[25]
Tajalli juga bisa diartikan:
Siapa pun yang mendapat tajalli dari Allah, maka dia mampu menangkap nur Ilahi. Dia lalu meretas jalan menuju ma’rifat dan mampu menyelami dunia batin karena sifat kebaruannya telah fana. Dia pun sampai kepada maqam haqqul-yaqin.[26]
            Kutipan tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa tajalli adalah jalan untuk mendapatkan ma’rifat setelah melampaui proses al-fana, yaitu hilangnya sifat-sifatdan rasa kemanusiaan karena melebur pada sifat-sifat Tuhan. Alat yang digunakan untuk mencapai tajalli adalah hati, yaitu hati yang telah mendapatkan cahaya dari Tuhan.[27]
            Kemungkinan manusia mencapai tajalli atau mendapatkan limpahan cahaya Tuhan bisa dilihat juga dari isyarat ayat berikut:
Cahaya di atas cahaya, Allah mengaruniakan Cahaya-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.[28]
            Dengan limpahan cahaya Tuhan itulah manusia dapat mengetahui rahasia-rahasia yang ada pada Tuhan. Dia lalu bisa mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia biasa. Orang yang sudah mencapai ma’rifat bisa berhubungan langsung dengan sumbar ilmu yaitu Allah. Dengan hati yang telah dilimpahi cahaya, seseorang bagaikan memiliki antena parabolayang mendapatkan pengetahuan langsung dari Tuhan.
Allah swt berfirman:
Dan, di atas yang berilmu pengetahuan ada lagi yang Maha Mengetahui (Allah).[29]
            Ma’rifat yang dicapai seseorang terkadang diberi nama beragam. Al-Syarbasi menyebutkan ilmu al-mauhubah (pemberian),[30] Al-Syuhrawardi menyebutkan al-isyraqiyah (pancaran), dan Ibn Sina menyebutkan  al-fa’id (limpahan). Sementara itu, kalangan pesantren mengistilahkannya sebagai futuh (pembuka), kalangan masyarakat Jawa menyebutnya ilmu laduni, dan kalangan kebatinan melabalinya sebagai wangsit.[31]
            Uraian di atas telah menginformasikan bahwa ma’rifat adalah  pengetahuan tentang rahasia-rahasia dari Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya melalui pancaran cahaya-Nya yang dimasukkan Tuhan ke dalam hati seorang sufi. Dengan demikian, ma’rifat berhubungan dengan Nur (Cahaya Tuhan). Di dalam Al-Qur’an, dijumpai tidak kurang dari 43 kata “nur” dan sebagian besar dihubungkan dengan Tuhan.[32] Misalnya ayat yang berbunyi:
Dan barang siapa tidak dilimpahi cahaya (petunjuk) oleh Allah,maka dia tidak mempunyai cahaya (kehidupan) sedikit pun.[33]
Apakah orang yang hatinya telah dibuka oleh Allah untuk menerima Islam dan ia berjalan dalam petunjuk serta cahaya Tuhan-Nya sama dengan orang yang buta hati?[34]
            Dua ayat tersebut sama-sama berbicara tentang cahaya Tuhan. Cahaya tersebut ternyata dapat diberikan Tuhan kepada hamba-Nya yang Dia kehendaki. Mereka yang mendapatkan cahaya dengan mudah mendapatkan petunjuk hidup, sedangkan mereka yang tidak mendapatkan cahaya akan menemui kesesatan. Dalam ma’rifat kepada Allah, yang didapat seorang sufi adalah cahaya. Dengan demikian, ajaran ma’rifat sangat dimungkinkan terjadi dalam Islam, dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.[35]
            Selanjutnya, simak juga hadits qudsi berikut:
“Aku (Allah) adalah perbendaharaan yang tersembunyi (Ghaib), Aku ingin memperkenalkan siapa Aku, maka Aku ciptakan mahluk. Oleh karena itu Aku memperkenalkan diri-Ku kepada mereka. Maka mereka mengenal Aku.[36]
            Hadits tersebut memberi petunjuk bahwa Allah dapat dikenal oleh manusia. Caranya  dengan mengenal atau meneliti ciptaan-Nya. Ini menunjukkan bahwa ma’rifat dapat terjadi, dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
           

















C.    FANA BAQA
            Dalam sejarah tasawuf, Abu Yazid al-Busthami (w. 261 H/876 M) disebut-sebut sebagai sufi yang pertama kali memperkenalkan paham fana dan baqa. Nama kecilnya adalah Thaifur. Nmanya sangat istimewa dalam hati kaum sufi seluruhnya. Tetapi bermacam-macam pula anggapan orang tentang pendiriannya. Ia pernah mengatakan, “Jangan kamu mudah tertipu kepada kekeramatan seseorang, misalnya dia sanggup terbang di udara, sebelum kamu melihat bagaimana dia mengikuti perintah syariat dan menjauhi batas-batas yang dilarangnya.[37]
            Al-Fana secara bahasa berarti hilangnya wujud sesuatu. Al-Fana berbeda dengan al-fasad (rusak). Fana artinya tidak tampaknya sesuatu, sedangkan rusak adalah berubahnya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Dalam hubungan ini, ketika membedakan antara benda-benda yang bersifat samawiyah dengan benda-benda yang bersifat alam, Ibn Sina mengatakan bahwa keberadaan benda alam itu atas dasar permulaannya, bukan atas dasar perubahan bentukyang satu dengan yang lainnya, hilangnya benda alam itu dengan cara fana, bukan dengan cara rusak.[38]
            Sedangkan arti fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Menurut pendapat lain, fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat yang tercela.[39]
            Mustafa Zahri mengatakan bahwa yang dimaksud fana adalah lenyapnya inderawi atau kebasyariahan, yakni sifat sebagai manusia biasa yang suka pada syahwat dan hawa nafsu. Orang yang telah diliputi hakekat ketuhanan sehingga tidak melihat lagi alam baru, alam rupa, dan alam wujud, maka dikatakan ia telah fana dari alam cipta atau dari alam makhluk.[40] Selain itu, fana juga dapat berarti hilangnya sifat-sifat buruk (maksiat) lahir-batin.
            Jika seseorang telah mencapai fana, maka ia akan berada dalam keadaan baqa. Secara harfiah, Baqa berarti kekal, sedangkan menurut para sufi, baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya sifat-sifat basyariah, maka yang kekal adalah sifat-sifat Illahiah. Dalam istilah tasawuf, fana dan baqa beriringan sebagaimana dinyatakan oleh para ahli tasawuf :
            Jika tampak nur ke-baqa-an, maka fana-lah yang tiada, dan baqa-lah yang kekal.[41]

            Tasawuf ialah fana dari diri dan baqa dengan Tuhan karena kehadiran hati sang diri         bersama Allah.[42]
            Dengan demikian, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan fana ialah lenyapnya sifat-sifat basyariah, akhlak yang tercela, kebodohan, dan perbuatan maksiat dari diri manusia. Sedangkan baqa adalah kekalnya sifat-sifat ketuhanan, akhlak terpuji, ilmu pengetahuan, dan kebersihan diri dari dosa dan maksiat. Untuk mencapai baqa perlu dilakukan usaha-usaha seperti bertaubat, berzikir, beribadah, dan menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji.
            Selanjutnya fana yang dicari oleh orang sufi adalah penghancuran diri (al-fana an al-nafs), yaitu hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia. Menurut Al-Qusyairi, yang dimaksud fana adalah :
Seseorang fana dari dirinya dan dari makhluk lain karena hilangnya kesadaran tentang dirinya dan tentang makhluk lain itu. Sebenarnya dirinya tetap ada dan demikian pula makhluk lain ada, tetapi ia tak sadar lagi pada mereka dan pada dirinya.[43]
            Apabila seorang sufi telah mencapai al-fana an al nafs, yaitu apabila wujud jasmaniah tak ada lagi (dalamarti takdisadarinya lagi), maka yang akan tinggal ialah wujud ruhaninya dan ketika itu ia berdatu dengan Tuhan secara ruhaniah. Menurut Harun Nasution, tampaknya persatuan dengan Tuhan ini terjadi langsung setelah tercapainya al-fana an al-nafs.[44] Tak ubahnya dengan fana yang terjadi ketika hilangnya kejahilan, maksiat, dan kelakuan buruk, maka yang tinggal ialah pengetahuan, takwa, dan kelakuan baik.
            Adapun salah satu jalan untuk mencapai penghayatan fana’ fi’ llah (esctasy) disamping mendalamnya cinta rindu, adalah dengan meditasi (pemusatan kesadaran) dengan perantaraan zikir. Dalam kitab Hikam diterangkan sebagai berikut :
Zikir adalah sebuah pintu yang paling besar (untuk mencapai fana’ dan ma’rifat) pada Allah; maka masukilah, sertailah setiap keluar masuknya nafas dengan zikir.
            Telah diketahui pada bab dimuka, bahwa ma’rifat adalah tingkat yang tinggi untuk bisa dekat dengan Allah, namun untuk ketingkat dimana seorang sufi dapat melihat Tuhan pada lubuk hati sanubarinya tidak mudah. Semakin tinggi ma’rifat seseorang maka semakin dekat ia dengan Tuhan. Yang akhirnya bersatu dengan Tuhan. Namun untuk mencapai ma’rifat seorang sufi harus bisa menghancurkan diri terlebih dulu. Proses penghancuran diri inilah  di dalam Tasawuf disebut “fana”, yang diiringi oleh “Baqa”.
           

BAB 111
PENUTUP
Kesimpulan
Dengan urain tersebut kita dapat memperoleh pemahaman bahwa :
Ø  mahabbah adalah suatu keadaan jiwa yang mencintai Tuhan sepenuh hati sehingga sifat-sifat yang dicintai (Tuhan) masuk kedalam diri yang mencintai. Tujuannya adalah untuk memperoleh kesenangan batiniah yang sulit dilukiskan dengan kata-kata, tetapi hanya dapat dirasakan oleh jiwa. Selain itu, uraian di atas juga menggambarkan bahwa mahabbah adalah merupakan hal yaitu keadaan mental, seperti perasaan senang, perasaan sedih, perasaan takut, dan sebagainya. Hal bertalian dengan maqam karena hal bukan diperoleh atas usaha manusia, melainkan karena anugrah dan rahmat dari Tuhan. Dan berlainan pula dengan maqam, hal bersifat semaentara, datang dan pergi, sebagaimana datang dan perginya seorang sufi dalam perjalanannya mendekati Tuhan.
Ø  ma’rifat adalah  pengetahuan tentang rahasia-rahasia dari Tuhan yang diberikan kepada hamba-Nya melalui pancaran cahaya-Nya yang dimasukkan Tuhan ke dalam hati seorang sufi. Dengan demikian, ma’rifat berhubungan dengan Nur (Cahaya Tuhan).
Oleh karena itu kaum sufi mengatan:
1.      Kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, maka mata kepalanyaakan tertutup, dan ketika itu yang dilihatnya hanya Allah.
2.      Ma’rifat adalah cermin, kalau seorang arif melihat ke cermin itu yang akan dilihatnya hanyalah Allah.
3.      Yang dilihat orang arif, baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanya Allah.
4.      Seandainya ma’rifat mengambil bentuk materi, semua orang yang melihat padanya akan mati karena tak tahan melihat kecantikan serta keindahannya.  Dan semua cahaya akan menjadi gelap disamping cahaya keindahan yang gilang-gemilang.
Ø   fana menurut kalangan sufi adalah hilangnya kesadaran pribadi dengan dirinya sendiri atau dengan sesuatu yang lazim digunakan pada diri. Menurut pendapat lain, fana berarti bergantinya sifat-sifat kemanusiaan dengan sifat-sifat yang tercela.
Baqa berarti kekal, sedangkan menurut para sufi, baqa adalah kekalnya sifat-sifat terpuji dan sifat-sifat Tuhan dalam diri manusia. Karena lenyapnya sifat-sifat basyariah, maka yang kekal adalah sifat-sifat Illahiah. Dalam istilah tasawuf, fana dan baqa beriringan.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
 Mustafa, Drs., Akhlak Tasawuf, Pustaka Setia, Bandung, 1999.
Sholihin, Dr.M.Ag., Akhlak Tasawuf, Nuansa,Bandung, 2005.
Simuh, Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam, RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1996.


[1] Lihat Kamus Yunus, Kamus Arab Indonesia, Hidakarya Agung, Jakarta, 1990, hlm. 96.
[2] Jamil Shaliba, Al-Mu’jam al-Falsafi Jilid 2, Dar al-Kairo, Mesir, 1978, hlm. 439.
[3] Ibid., hlm. 349.
[4] Abuddin Nata, akhlak Tasawuf, Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. Ke-4, 2002, hlm. 208
[5] Jamil Shaliba, Al-Mu’jam al-Falsafi..., hlm. 440.
[6] Al-Qusyairi al-Naisaburi, Al-Risalah al-Qusyairiyah, Dar al-Kahir, Mesir, t.t., hlm. 318.
[7] Ibid., hlm. 319.
[8] Jamil Shaliba, Al-Mu’jam al-Falsafi..., hlm. 617.
[9] Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta, 1983, hlm. 70.
[10] Ibid., hlm. 70-71.
[11] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf...,hlm. 210.
[12] Harun Nasution, Falsafah dan ..., hlm. 63.
[13] Mustafa Zahri, Kunci Memahami Ilmu Tasawuf, Bina Ilmu, Surabaya, cet. Ke-1, 1995, hlm. 227.
[14] Ibid., hlm. 227.
[15] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 226-227.
[16] Harun Nasution, Filsafat dan..., hlm. 78.
[17] IAIN Sumatera Utara, Pengantar Ilmu Tasawuf, Sumatera Utara, 1983/1984, hlm. 122.
[18] Jamil Shaliba, Al-Mu’jam al-Falsafi Jilid 2, Dar al-Kitab, Beirut, 1979, hlm. 72.
[19] Ibid., hlm. 72
[20] Al-Kalabadzi, Al-Ta’arruf li Madzhab Ahl al-Tasawwuf, Dar al-Qahirah, Mesir, t.t., hlm. 158-159.
[21] Harun Nasution, Filsafat dan..., hlm. 75.
[22] Ibid., hlm. 75-76.
[23] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 222.
[24] Qs al-A’raf[7] : 143.
[25] Mustafa Zahri, Kunci Memahami...., hlm. 246.
[26] Ibid., hlm. 247.
[27] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 224.
[28] Qs al-Nur [24] : 35
[29] QS Yunus [12] : 76.
[30] Al-Syarbasi, Sejarah Tafsir Al-Qur’an, Dar Al-Ma’arif, Mesir, 1978, hlm. 56.
[31] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 225.
[32] Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Baqa, Al-Mu’jam al-Mufahras li Afadz al-Qur’an al-Karim, Dar al-Fikr, Beirut, 1987, hlm. 725-726.
[33] Qs al-Nur [24] : 40.
[34] Qs al-Zumar [39] : 22
[35] Abuddin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 230.
[36] Ibid., hlm. 230
[37] Hamka, Tasawuf, Perkembangan dan Pemurniannya, Pustaka Panjimas, Jakarta, cet. Ke-11, 1984, hlm. 102.
[38] Jamil Shaliba,Al-Mu’jam al-Falsafi..., hlm.167.
[39] Ibid., hlm. 167.
[40] Mustafa Zahri, Kunci Memahami..., hlm. 234.
[41] Ibid., hlm. 234.
[42] Ibid., hlm. 234.
[43] Al-Qusyairi al-Naisaburi, Al-Risalah al-Qusyairiyah..., hlm. 303.
[44] Harun Nasution, Filsafat dan..., hlm. 81

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar